Selasa, 11 November 2008

Cahaya Penghancur Berhala

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai mendakwahkan Islam, Arab adalah sebuah masyarakat jahiliyyah penganut takhayyul. Tapi, berkat cahaya Al Qur’an, mereka kemudian terbebaskan dari takhayyul dan mulai menggunakan akal mereka. Akibatnya, salah satu perkembangan mencengangkan dalam sejarah dunia pun terjadi. Dalam beberapa puluh tahun saja, Islam, yang muncul dari kota kecil bernama Madinah, tersebar dari Afrika hingga Asia Tengah.

Masyarakat Arab, yang dulunya tak mampu mengurus satu kota pun dengan rukun, menjadi penguasa imperium dunia. Dalam bukunya The Straight Path, pakar Islam asal Amerika, Profesor John Esposito, menjelaskan sisi menakjubkan tentang kemunculan Islam sebagaimana berikut:

Yang paling mencengangkan tentang perluasan wilayah kekuasaan Islam di masa awal adalah kecepatan dan keberhasilannya. Para pakar Barat merasa takjub akan hal ini… Dalam satu dasawarsa, pasukan Arab menaklukkan angkatan perang Bizantium dan Persia…dan menguasai Irak, Suriah, Palestina, Persia dan Mesir… Pasukan Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa yang berhasil, pembangun dan bukan perusak. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 33)

Ketika beragam bangsa, termasuk Turki, menerima Islam atas kehendak mereka sendiri, imperium Islam tumbuh semakin besar dan menjadi kekuatan terbesar di dunia pada masanya. Salah satu sisi terpenting imperium ini adalah terbukanya babak perkembangan ilmu pengetahuan yang tak tertandingi sebelumnya dalam sejarah.
“Pasukan Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa yang berhasil, pembangun dan bukan perusak.” (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 33)
Di masa ketika Eropa tengah mengalami Masa Kegelapan, dunia Islam telah membangun warisan terbesar ilmu pengetahuan yang pernah disaksikan sejarah hingga saat itu. Ilmu kedokteran, matematika, geometri, astronomi, dan bahkan sosiologi dikembangkan secara sistematis untuk kali pertama.
Sejumlah pengulas berusaha mengaitkan perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini dengan pengaruh Yunani Kuno. Namun, sumber sesungguhnya ilmu pengetahuan Islam adalah penelitian dan pengamatan para ilmuwan Muslim itu sendiri. Dalam bukunya The Middle East, Profesor Bernard Lewis, pakar sejarah Timur Tengah, menjelaskannya sebagai berikut:
Pencapaian ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan tidaklah terbatas pada pelestarian warisan keilmuwan Yunani, bukan pula penggabungan unsur-unsur warisan budaya Timur yang lebih tua dan lebih jauh kepada bangunan ilmu pengetahuan tersebut. Warisan ini, yang dilimpahkan para ilmuwan Islam abad pertengahan kepada dunia modern, sungguh sangat diperkaya oleh daya upaya dan sumbangsih mereka sendiri. Ilmu pengetahuan Yunani, secara keseluruhan, lebih cenderung bersifat teoritis. Ilmu pengetahuan Timur Tengah abad pertengahan lebih banyak bersifat praktis, dan dalam bidang-bidang seperti kedokteran, kimia, astronomi, dan agronomi, warisan masa lalu tersebut diperjelas dan diperkaya dengan penelitian dan pengamatan para ilmuwan Timur Tengah abad pertengahan. (Bernard Lewis, The Middle East, 1998, hlm. 266)
Rahasianya adalah disiplin ilmiah dan pola pikir yang diajarkan Al Qur’an kepada para ilmuwan Muslim. Baris-baris tulisan seorang ilmuwan Muslim masa itu dalam catatan hariannya dengan sangat jelas menunjukkan betapa gagasan ilmu pengetahuan berdasarkan Al Qur’an benar-benar diterapkan:
Ali Kushchu, ilmuwan abad ke-15th yang pertama kali membuat peta bulan. Namanya dijadikan sebagai nama salah satu wilayah di bulan.
Kemudian, selama satu setengah tahun, saya mencurahkan hidup saya untuk belajar....Selama masa ini, saya tak pernah tidur semalaman penuh dan tak melakukan apa pun selain belajar seharian penuh. Kapan pun saya menemukan kesulitan... Saya akan pergi ke masjid, sholat, dan memohon kepada Pencipta Segala Sesuatu untuk menunjukkan kepada saya apa yang tersembunyi dari saya, dan menjadikannya mudah bagi saya sesuatu yang sebelumnya sulit. Lalu di malam hari saya akan kembali ke rumah, meletakkan pelita di depan saya, dan memulai membaca dan menulis... Saya terus melakukan ini hingga saya memiliki dasar yang kuat di seluruh cabang ilmu pengetahuan dan menguasainya sejauh mungkin. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 54)
Andalusia (sekarang Spanyol), tempat kebanyakan ilmuwan Muslim dilahirkan dan dibesarkan, menjadi pusat utama kemajuan dan perkembangan, khususnya di bidang kedokteran. Para dokter Muslim sangat ahli di berbagai bidang seperti farmakologi, ilmu bedah, optalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi, dan ilmu kesehatan. Mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang meletakkan landasan bagi ilmu pengetahuan modern. Sebagian kecil dari mereka adalah:

Ibn Juljul (Tanaman obat-obatan), Abu Ja'far Ibn al-Jazzar (Kedokteran), Abd al-Latif al-Baghdadi (Anatomi), Ibn Sina (Anatomi), Zakariya Qazwini (Jantung dan otak), Hamdullah al-Mustaufi al-Qazwini (Anatomi), Ibn al-Nafis (Anatomi), Ali bin Isa (Anatomi mata), Biruni (Astronomi), Ali Kushchu (Astronomi), Thabit ibn Qurrah (Matematika), Battani (Matematika), Ibn al-Haitsam (Optik), Al-Kindi (Fisika).
Budaya ilmiah yang maju di dunia Islam ini membuka jalan bagi abad Kebangkitan Barat. Para ilmuwan Muslim bertindak atas pemahaman bahwa penelitian mereka terhadap ciptaan Allah adalah jalan yang dengannya mereka dapat mengenal Allah. Dengan berpindahnya cara berpikir ini ke dunia Barat, kemajuan Barat pun dimulai.

Durian yang jatuh ke atas...

Isaac Newton (1642-1727)
Isaac Newton adalah ilmuwan terkemuka asal Inggris. Teori gravitasinya yang terkenal seringkali dikaitkan dengan “the falling apple”, yakni kisah buah apel yang jatuh menimpa kepalanya. Konon kabarnya, peristiwa inilah yang mengilhami hukum gravitasi itu. Menurut kisah yang dianggap legenda oleh sebagian orang ini, suatu ketika Newton sedang membaca buku sembari duduk di bawah pohon apel. Tanpa diduga, buah apel jatuh dari pohon dan mengenai kepalanya. Ia pun bertanya pada diri sendiri, “Mengapa apel ini tidak jatuh ke atas atau ke samping, tetapi malah ke bawah?”

Sejenak tampaknya tak ada yang aneh dari peristiwa tersebut. Di negara tropis seperti Indonesia, jatuhnya buah-buahan dari ranting pohonnya adalah pemandangan yang biasa saja. Bahkan, terdapat pohon yang batang dan buahnya lebih tinggi dan lebih besar dari apel, misalnya durian dan nangka. Ketika jatuh dari ketinggian yang sama, buah nangka dan durian akan lebih menyakitkan kepala orang yang ditimpanya ketimbang apel. Apalagi kulit durian dipenuhi duri-duri tajam. Tapi mengapa sebagian besar kita memandang peristiwa jatuhnya buah-buahan tropis ini sebagai hal yang biasa saja, tidak seperti Newton. Yang jelas, ini bukan karena orang yang tertimpa buah durian atau nangka merasa kesakitan dan kapok sehingga tak mau berpikir tentang fenomena alam tersebut. Lalu apa pasalnya?

Di zaman Newton, apel adalah buah yang akrab didengar dan umum dimakan masyarakat Inggris, bahkan hingga hari ini oleh hampir semua orang di dunia. Beberapa mereka mungkin pernah pula kejatuhan apel seperti yang dialami Newton. Tapi yang membedakan di sini adalah perbuatan Newton: “mempertanyakan mengapa apel jatuh ke arah bawah”. Di sinilah kuncinya. Newton melakukan sesuatu yang selalu diabaikan kebanyakan orang: mengkaji sesuatu yang tampak ‘biasa saja’. Ketertarikan pada fenomena alam yang ‘biasa saja’ inilah yang menjadikan Newton yang awalnya hanya sebuah nama bagi dirinya, menjadi Newton sebagai julukan hukum gravitasi temuannya.

Di zaman Newton, apel adalah buah yang akrab didengar dan umum dimakan masyarakat Inggris, bahkan hingga hari ini oleh hampir semua orang di dunia. Beberapa mereka mungkin pernah pula kejatuhan apel seperti yang dialami Newton. Tapi yang membedakan di sini adalah perbuatan Newton: “mempertanyakan mengapa apel jatuh ke arah bawah”. Di sinilah kuncinya.
Begitulah, ketertarikan mendalam terhadap peristiwa alam merupakan pintu gerbang menuju perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan terkemuka perintis ilmu pengetahuan dari Timur Tengah maupun Barat adalah mereka yang memiliki ketertarikan terhadap gejala alam di sekitar mereka. Lebih dari itu, kegiatan ilmiah mereka ternyat a didorong oleh sesuatu yang jauh di atas tujuan duniawi dan kesenangan sesaat semata. Para ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam ciptaan-Nya. Newton berkata, “Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu... [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...” (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Great Books of the Western World 34, William Benton, Chicago, 1952:273-74)

Demikianlah, manusia hendaknya menyaksikan peristiwa alam di hadapannya tidak dengan kaca mata “biasa saja”. Sebab Allah menciptakan segala sesuatu di alam dengan perancangan sempurna dan perhitungan cermat. Bukti keagungan Pencipta hanya dapat dipahami oleh mereka yang terbiasa memikirkan secara mendalam atas segala yang mereka saksikan, tanpa menunggu hal yang ‘luar biasa’ seperti jatuhnya buah durian ke atas!

Si Mungil Ahli Pemotong Daun

Adik-adik, tahukah kalian bahwa ada jenis semut yang bercocok tanam dengan menumbuhkan jamur di sarangnya? Yah mereka inilah semut-semut petani jamur. Mereka menanam jamur untuk makanan mereka. Mereka menggunakan dedaunan tumbuhan yang telah mereka potong-potong sebagai media penumbuh jamur.

Namun, tahukah kalian, bagaimana semut-semut ini memotong dedaunan? Ternyata semut memiliki peralatan khusus dan sangat ahli dalam memotong dedaunan, bahkan ranting pohon!
Bila ukuran semut dibandingkan dengan manusia, besarnya dedaunan yang mereka potong layaknya selembar papan berat atau sebuah batang pokok pohon. Oleh karena itu, semut ini pastilah memiliki alat dan cara pemotongan yang sangat canggih.

Bila ukuran semut dibandingkan dengan manusia, besarnya dedaunan yang mereka potong layaknya selembar papan berat atau sebuah batang pokok pohon. Kita menggunakan peralatan khusus untuk menebang pohon, dengan gergaji mesin misalnya. Tapi, bagaimana semut melakukannya? Jawabannya lagi-lagi menunjukkan keajaiban penciptaan. Allah telah memberi semut seperangkat alat potong yang merupakan keajaiban desain.

Perangkat pemotongan semut pemotong daun, sebagaimana tampak di gambar, terdiri atas dua bilah pisau. Pisau tersebut terbalut lapisan logam seng yang menjadikannya sangat tajam. Cara pemotongannya pun sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.

Perangkat pemotongan terdiri atas dua bilah pisau. Pisau tersebut terbalut lapisan seng yang menjadikannya sangat tajam. Cara pemotongannya sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.

Desain pada perangkat ini sangatlah canggih. Marilah kita teliti struktur perangkat tersebut. Melapisi pisau logam dengan logam campuran agar lebih tajam adalah teknik yang dipakai manusia. Tapi manusia yang melakukannya memiliki akal dan kecerdasan, dan perangkat teknologi yang dikembangkannya adalah hasil penelitian khusus di laboratorium .

Tapi semut tak pernah tahu jika ada bahan baku yang bernama seng. Tidak juga mereka tahu bahwa pisaunya terbalut lapisan seng. Sel-sel perangkat pemotong pada semut dengan ajaib membungkus pisau tersebut dengan lapisan seng. Terdapat perancangan maha cerdas pada tubuh makhluk mungil ini.

Hal yang sama berlaku pula pada perangkat yang menjadikan daun lebih mudah dipotong dengan menggunakan gelombang suara. Semut sama sekali tidak tahu bahwa frekuensi tinggi akan menjadikan benda lebih rapuh. Tak ada keraguan bahwa perangkat rumit secanggih ini tidaklah mungkin ada dengan sendirinya secara kebetulan. Hanya ada satu penjelasan bagi keberadaan perangkat yang sempurna ini. Perangkat ini sengaja diciptakan. Semut telah diciptakan oleh Allah; dan teknik pemotongan daun serta segala keahlian mereka yang lain adalah pemberian-Nya. Hal ini dinyatakan dalam ayat Alquran:

“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (QS. Al An’aam, 6:80)

Minggu, 09 November 2008

Peran Guru

PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan.

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan
dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu,
apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan
demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik.

Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya
terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan
dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka
untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan
termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai
sebelumnya.
4. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar
mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan
berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan
memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

Cooperative learning

Cooperative Learning
Cooperative learning is a successful teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Each member of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates learn, thus creating an atmosphere of achievement. Students work through the assignment until all group members successfully understand and complete it.
Cooperative efforts result in participants striving for mutual benefit so that all group members:
gain from each other's efforts. (Your success benefits me and my success benefits you.)
recognize that all group members share a common fate. (We all sink or swim together here.)
know that one's performance is mutually caused by oneself and one's team members. (We can not do it without you.)
feel proud and jointly celebrate when a group member is recognized for achievement. (We all congratulate you on your accomplishment!).
Why use Cooperative Learning?
Elements of Cooperative Learning
Class Activities that use Cooperative Learning

Why use Cooperative Learning?
Research has shown that cooperative learning techniques:
promote student learning and academic achievement
increase student retention
enhance student satisfaction with their learning experience
help students develop skills in oral communication
develop students' social skills
promote student self-esteem
help to promote positive race relations

5 Elements of Cooperative Learning
It is only under certain conditions that cooperative efforts may be expected to be more
productive than competitive and individualistic efforts. Those conditions are:
1. Positive Interdependence (sink or swim together)
Each group member's efforts are required and indispensable for group success
Each group member has a unique contribution to make to the joint effort because of his
or her resources and/or role and task responsibilities

2. Face-to-Face Interaction (promote each other's success)
Orally explaining how to solve problems
Teaching one's knowledge to other
Checking for understanding
Discussing concepts being learned
Connecting present with past learning

3. Individual &Group Accountability( no hitchhiking! no social loafing)
Keeping the size of the group small. The smaller the size of the group, the greater the
individual accountability may be.
Giving an individual test to each student.
Randomly examining students orally by calling on one student to present his or her group's
work to the teacher (in the presence of the group) or to the entire class.
Observing each group and recording the frequency with which each member-contributes to
the group's work.
Assigning one student in each group the role of checker. The checker asks other group
members to explain the reasoning and rationale underlying group answers.
Having students teach what they learned to someone else.

4. Interpersonal &Small-Group Skills
Social skills must be taught:
Leadership
Decision-making
Trust-building
Communication
Conflict-management skills

5. Group Processing
Group members discuss how well they are achieving their goals and maintaining effective
working relationships
Describe what member actions are helpful and not helpful
Make decisions about what behaviors to continue or change



Class Activities that use Cooperative Learning
Most of these structures are developed by Dr. Spencer Kagan and his associates at Kagan Publishing and Professional Development. For resources and professional development information on Kagan Structures, please visit: www.KaganOnline.com


1. Jigsaw - Groups with five students are set up. Each group member is assigned some unique
material to learn and then to teach to his group members. To help in the learning students
across the class working on the same sub-section get together to decide what is important and
how to teach it. After practice in these "expert" groups the original groups reform and
students teach each other. (Wood, p. 17) Tests or assessment follows.
2. Think-Pair-Share - Involves a three step cooperative structure. During the first step
individuals think silently about a question posed by the instructor. Individuals pair up during
the second step and exchange thoughts. In the third step, the pairs share their responses with
other pairs, other teams, or the entire group.
3. Three-Step Interview (Kagan) - Each member of a team chooses another member to be a
partner. During the first step individuals interview their partners by asking clarifying
questions. During the second step partners reverse the roles. For the final step, members
share their partner's response with the team.
4. RoundRobin Brainstorming (Kagan)- Class is divided into small groups (4 to 6) with one
person appointed as the recorder. A question is posed with many answers and students are
given time to think about answers. After the "think time," members of the team share
responses with one another round robin style. The recorder writes down the answers of the
group members. The person next to the recorder starts and each person in the group in order
gives an answer until time is called.
5. Three-minute review - Teachers stop any time during a lecture or discussion and give teams
three minutes to review what has been said, ask clarifying questions or answer questions.
6. Numbered Heads Together (Kagan) - A team of four is established. Each member is given
numbers of 1, 2, 3, 4. Questions are asked of the group. Groups work together to answer the
question so that all can verbally answer the question. Teacher calls out a number (two) and
each two is asked to give the answer.
7. Team Pair Solo (Kagan)- Students do problems first as a team, then with a partner, and
finally on their own. It is designed to motivate students to tackle and succeed at problems
which initially are beyond their ability. It is based on a simple notion of mediated learning.
Students can do more things with help (mediation) than they can do alone. By allowing them
to work on problems they could not do alone, first as a team and then with a partner, they
progress to a point they can do alone that which at first they could do only with help.
8. Circle the Sage (Kagan)- First the teacher polls the class to see which students have a special
knowledge to share. For example the teacher may ask who in the class was able to solve a
difficult math homework question, who had visited Mexico, who knows the chemical reactions
involved in how salting the streets help dissipate snow. Those students (the sages) stand and
spread out in the room. The teacher then has the rest of the classmates each surround a sage,
with no two members of the same team going to the same sage. The sage explains what they
know while the classmates listen, ask questions, and take notes. All students then return to
their teams. Each in turn, explains what they learned. Because each one has gone to a different
sage, they compare notes. If there is disagreement, they stand up as a team. Finally, the
disagreements are aired and resolved.
9. Partners (Kagan) - The class is divided into teams of four. Partners move to one side of the
room. Half of each team is given an assignment to master to be able to teach the other half.
Partners work to learn and can consult with other partners working on the same material.
Teams go back together with each set of partners teaching the other set. Partners quiz and
tutor teammates. Team reviews how well they learned and taught and how they might
improve the process.